Tampilkan postingan dengan label Exciting story. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label Exciting story. Tampilkan semua postingan

Rasa TakuT.......

Mengatasi Rasa Takut
“Nggak pulang?”
“Nunggu hujan.”
“Loh, hujannya kan sudah datang tuh…?” * sambil cengengesan *
”Nunggu hujannya berhenti!” * sedikit sewot *
Benarkah kita takut hujan? Tidak. Yang benar kita… takut basah! Tuh, lihat. Anak kecil justru main hujan-hujanan karena tidak takut basah. Tapi, takut basah pun masih salah. Yang lebih tepat lagi adalah kita takut dengan konsekuensi basah. Jadi nggak bisa ngantor lah. Jadi malu sama orang lah. Jadi sakit lah.
Takut adalah mekanisme alamiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tujuannya adalah, agar kita menjadi berhati-hati, dan karena itu jadi selamat. Sebenarnya yang kita takutkan seringkali bukan sesuatu yang langsung dihadapi, tapi konsekuensi lanjut dari sesuatu itu. Misalnya, takut hujan. Maksud sesungguhnya adalah takut menjadi basah sehingga jadi malu kepada orang lain, atau jadi sakit. Nah, bila konsekuensi ini tidak lagi menakutkan buat kita (misalnya yakin tidak akan jadi sakit, atau niat sudah pulang dari kantor), maka sesuatu itu juga menjadi tidak lagi menakutkan.
Takut hantu?
Apa sih yang membuat kita takut hantu? Pasti karena bayangan si hantu itu akan mencekek kita, lalu kitanya jadi mati. Atau si hantu masuk ke dalam diri kita, lalu kitanya jadi nggak sadar, lalu terjun bebas keluar jendela, lalu mati. Pokoknya apapun yang dilakukan si hantu itu… ujung-ujungnya kita mati. Nah, itulah dia! Yang kita takutkan sebenarnya bukan si hantu, tapi ujung-ujungnya kita mati itu. (Padahal statistik bahwa hantu alias jin membunuh manusia itu sulit untuk dipercaya. Ngapain si jin itu capek-capek ’ngerjain kita’, emangnya dia dapat untung apaan? Dunianya juga tersekat berbeda.)

Ramalan..........

Ramalan, Fengshui, takdir, dan Efek Forer
Filed under: Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Intelektual, Cara Bahagia
Mama Lauren sedang naik daun. Kata orang, ramalannya jitu. Pada awal tahun 2007 ketika terjadi musibah hilangnya Adam Air dan tenggelamnya kapal Senopati, Mama lauren muncul di sebuah acara TV dan ditanya mengenai ramalannya untuk tahun 2007. Tentu saja saya yang kebetulan nonton acara itu (lupa acaranya) ikut curious dengan ramalan dia.
Katanya, kalau tidak salah, akan ada lagi musibah kecelakaan pesawat. Kalau tidak salah lagi, inisialnya ”A”. Selain itu ada ramalan artis yang akan bercerai (yang ini sih, standar). Beberapa waktu kemudian terjadi musibah pendaratan tak mulus pesawat Adam Air di Surabaya. Pesawatnya rusak, namun semua penumpang selamat. Kemudian terjadi lagi musibah kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta. Musibah ini cukup fatal dan terdapat korban jiwa.
Nah, kalau ramalan mama Lauren jitu, mengapa inisial yang disebutkan ”A”, bukan ”G”? Apakah ramalan tersebut sekedar kebetulan? Atau suatu kemestian umum (seperti halnya ramalan bahwa harga BBM akan naik)?
Ramalan dan seni meramal sudah populer sejak jaman purba. Manusia selalu punya rasa ingin tahu tentang nasibnya di masa depan. Apakah kita boleh percaya dengan ramalan?

Bank............

Bank Kaum Miskin (2)
Filed under: Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Power, Kecerdasan Intelektual, Profil, Kiat
“Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan.”
Hugo Cavez, Presiden Venezuela
Seraya berekspansi, kami pantau kemajuan para peminjam melalui siklus pinjaman berturutan. Kebanyakan, besaran pinjaman mereka meingkat sejalan pertumbuhan bisnis dan meningkatnya kepercayaan dirinya. Beberapa peminjam yang paling dinamis menggunakan laba yang didapatnya untuk membangun rumah baru atau memperbaiki rumahnya sekarang. Tiap kali saya mengunjungi sebuah desa dan melihat sebuah rumah dibangun dari laba usaha yang dibiayai Grameen, saya merasa tergetar, meski saya masih menyesal karena ada banyak peminjam lainnya yang tidak mampu melakukan investasi besar macam itu.
Tahun 1984, saya lihat iklan Bank Sentral bangladesh yang mengumumkan rencana pembiayaan baru untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) di wilayah pedesaan. Menanggapi iklan itu, Grameen Bank mengajukan ke Bank Sentral permohonan bantuan untuk mengenalkan program KPR ke peminjam. Kami jelaskan bahwa kami dibatasi oleh kondisi para peminjam kami yang sangat sederhana, yang tidak bisa membayar uang sebesar yang disebutkan dalam iklan Bank Sentral. Para peminjam kami tidak bisa meminjam 75.000 taka (sekitar AS$2.000), tetapi kami sungguh ingin meminjamkan KPR sejumlah 5.000 taka (AS$125) untuk mereka.
Permohonan kami ditolak. Para staf ahli dan konsultan Bank Sentral memutuskan bahwa apapun yang dibangun dengan harga AS$125 tidak akan memenuhi pengertian struktural sebuah rumah. Secara spesifik mereka nyatakan bahwa rumah macam itu tidak sesuai dengan “jenis rumah di negeri ini”.
Saya protes. “Siapa peduli dengan ‘jenis rumah di negeri ini’?” ujar saya. “Yang kami inginkan adalah atap yang tidak bocor dan ruang kering yang bisa dihuni oleh para anggota kami.”
Kami berusaha agar konsultan-konsultan Bank Sentral bisa melihat sendiri dampak besar kredit rumah yang sangat kecil ini terhadap kondisi para peminjam kami saat ini. Tetapi semua argumentasi kami kandas. Mereka tidak akan mengalah.

SikluS......

Siklus dan ritme kehidupan
Filed under: Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Power, Kiat, Topik Personal, Cara Bahagia
Secara periodik kita akan mengalami kegelisahan. Merasa jenuh dengan aktivitas rutin yang kita lakukan setiap hari. Merasa kurang dengan apa yang telah kita capai. Merasa bosan dengan apa yang kita miliki.
Lalu mendadak kita bersemangat lagi untuk mengerjakan segala sesuatu. Merasa bersyukur dengan yang kita miliki, juga merasa lebih dekat dengan Tuhan. Tampaknya memang manusia mengalami siklus yang serupa dengan alam. Bila alam mengenal siang dan malam, pergantian musim, pertumbuhan dan kehancuran, maka demikian pula dengan fisik maupun mental manusia yang terkadang naik, terkadang turun. Kata orang itu disebut dengan bioritmik, ritme kondisi fisik dan mental seseorang.
Ketika istri saya berniat menjalani terapi untuk memudahkan punya anak, si ibu pemijat meminta datang pijat pertama kali pada hari kelahiran yang dihitung sesuai penanggalan Jawa. Waktu itu jatuhnya -kalau tak salah- adalah Senin Pon. Sebagian orang mungkin melihat hal tersebut sebagai hal yang tidak selaras dengan petunjuk agama.
Saya sendiri berpikir sederhana, aturan itu (perhitungan dengan ‘weton’ atau hari kelahiran) merupakan pendekatan untuk memperkirakan siklus fisiologi manusia, yang karena ilmunya dirumuskan jaman dahulu maka pemodelannya menggunakan sistem kalender bulan Jawa.
Kebudayaan orang jaman dulu sangat memperhatikan waktu untuk memulai aktivitas. Entah akurat atau tidak, saya kira itu merupakan pendekatan empiris pada kejadian yang mereka alami. Misalnya menghitung hari baik untuk memulai usaha. Menghitung perjodohan. Bahkan kemudian meramal-ramal nasib dengan melihat waktu lahir. Saya sendiri percaya dengan adanya siklus alam, namun TIDAK percaya bahwa model buatan manusia cukup akurat apalagi untuk memperkirakan nasib seseorang. Jadi saya tidak mengikuti cara memilih hari baik untuk memulai aktivitas dengan pemodelan orang jaman dulu.
Namun saya lebih menyukai melihat ‘hari baik untuk mulai usaha’ menggunakan logika modern (yang mungkin juga akan ditertawakan oleh orang jaman dulu). Misalnya, jangan mulai jualan baju setelah hari lebaran! Jelas tidak laku, karena menentang siklus perilaku pembelian baju oleh masyarakat banyak. Kalau mau jual baju ya baiknya sebelum lebaran. Sama halnya dengan lagu-lagu bernuansa religius Islam, pastilah paling tepat dimunculkan saat-saat ini menjelang puasa Ramadhan. Kalau lagu tersebut diterbitkan pada awal tahun baru, tampaknya melawan musim. Ibarat tanam padi di musim kemarau.

Between Love N........

Antara Cinta dan Suka
Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta – cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke jenjang pernikahan.
Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya.
Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.
Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.
Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang.
Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.
Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.
Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut.
Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya.
Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.
Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.
Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh.
Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.
Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu ocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.
Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan -- ini yang penting -- cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.
Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.
Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!
Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok! Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.
Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18).
Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.
Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.
Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita.
Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku? Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.
Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

Mencintai Tak harus...........

Mencintai tak harus memiliki. Ah, masa?

Filed under: Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosi, Topik Personal, Cara Bahagia
“Mencintai tak harus memilki…,” demikian syair sebuah lagu yang terdengar di radio. Ini kisah cinta yang tak kesampaian, entah karena cinta tak berbalas, maupun dua insan yang saling mencintai tapi terpaksa tak bisa berstu.
Ini kisah si Lanang, sebut saja namanya begitu, yang cinta setengah mati kepada Melati, gadis idamannya sejak masa SMA. Cinta si Lanang tak berbalas. Selain mungkin Melati tidak tertarik dengan Lanang, mungkin juga faktor beda keyakinan antara keduanya telah menjadi kendala.
Lanang adalah pemuda yang brilyan dalam pelajaran. Prestasinya mengagumkan. Namun dalam urusan cinta, tampaknya Lanang tak bisa berpikir jernih. Ketika Melati menikah dengan orang lain, Lanang masih mencintai.


Ketika Melati sudah berputra, Lanang pun masih mencintai. Melati adalah ‘cinta sejati’ Lanang (tentu saja menurut versi Lanang sendiri).
Kuliah Lanang akhirnya berantakan. Menurut teman-temannya, tampaknya masalah cinta kepada Melati memberi andil utama kacaunya konsentrasi Lanang kepada kuliahnya. Hidup Lanang berantakan karena kesetiaan kepada cintanya sendiri. Ah, Lanang, seharusnya kau tahu bahwa mencintai tak harus memiliki….
Apakah di antara Anda ada yang mengalami kasus mencintai tapi tak memiliki? Pendapat saya, mencintai harusnya memiliki. Kalau tidak bisa dimiliki, JANGAN dicintai (atau kurangilah cinta Anda).
Baik, agar lebih netral, boleh mencintai tanpa memiliki, tapi CINTAILAH YANG ANDA MILIKI.
Banyak terjadi pasangan suami istri yang diam-diam masih berselingkuh hatinya. Salah satu dari mereka masih memendam cinta yang amat sangat kepada ‘cinta sejati’nya. Hatinya masih terus mengingat masa lalunya. Sementara mungkin yang sedang ia ingat itu tidak balas mengingatnya sedikitpun. Sebaliknya, pasangan yang kini dimiliki dan memiliki, justru tidak mendapat cinta yang penuh. Bayang-bayang masa lalu masih melekat, bagaikan beban berat di punggung yang tak bisa dilepaskan.
Bila Anda mencintai sesuatu, kemudian gagal memilikinya, relakan saja. Punahkan cintamu itu dan arahkan kepada yang bisa engkau miliki. Kemampuan melepaskan apa yang luput dan hilang darimu adalah bagian dari keimananmu kepada Tuhan. Pantaskah kita menganggap apa yang terbaik bagi kita adalah yang luput itu? Mengapa tidak kita syukuri apa yang diberikan-Nya kepada kita?
Mencintai sesuatu yang tidak dimiliki sebenarnya adalah tindakan yang buruk, karena menguras energi. Cinta adalah perhatian yang memerlukan energi perasaan dan pikiran. Mencintai memerlukan energi. Karena itulah yang terbaik adalah saling mencintai, suatu kondisi saling memberi energi. Bila kita saling mencintai, maka kedua pihak akan semakin sehat dan tumbuh. Bila hanya salah satu yang mencintai, maka si pecinta akan terus mengeluarkan energinya dan suatu saat mengalami kemunduran, fisik maupun mental. Hanya mereka yang punya tingkatan ikhlas tinggi sajalah, mampu menyerap dengan mudah energi dari alam semesta untuk kemudian disalurkan menjadi energi cinta kepada makhluk lain. Dan kalau memang punya keikhlasan tinggi, bukankah sangat mudah untuk melepaskan apa yang luput itu?
Bila Anda pernah mencintai seseorang, dan lalu menjadi milik orang lain. Punahkan cintamu kepadanya. Carilah sosok lain yang bisa mengimbangi cintamu, dan cintailah sepenuh-penuhnya. Cinta searah tak akan menumbuhkan, cinta dua arah akan saling menumbuhkan.
Kisah si Lanang adalah kisah nyata seorang teman saya. Syukurlah, setelah kejatuhan yang begitu menyakitkan, kini dia bisa menerima dan memulai kehidupan yang baru.
Mencintai tak harus memiliki. Setelah gagal memiliki, tak usahlah terus mencintai. Carilah ganti, dan kemudian cintailah apa yang kau miliki.